Istanbul (KABARIN) - Lebanon dan Israel dilaporkan sepakat untuk memperbarui gencatan senjata yang selama ini bersifat rapuh serta membentuk “zona percontohan” yang akan menempatkan Angkatan Bersenjata Lebanon sebagai satu-satunya otoritas pengendali wilayah, dengan mengecualikan seluruh aktor non-negara.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu setelah putaran keempat pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Departemen Luar Negeri AS.
Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa keberlanjutan gencatan senjata bergantung pada penghentian total tembakan dari Hizbullah serta penarikan seluruh anggota kelompok tersebut dari wilayah Sektor Litani Selatan.
“Gencatan senjata ini bergantung pada penghentian total tembakan Hizbullah dan evakuasi semua anggota Hizbullah dari Sektor Litani Selatan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kedua pihak juga menyepakati percepatan pembentukan zona percontohan, di mana militer Lebanon akan memegang kendali eksklusif atas wilayah tersebut tanpa kehadiran kelompok bersenjata non-negara. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menuju kesepakatan keamanan dan perdamaian yang lebih komprehensif.
Selain itu, kedua negara sepakat melanjutkan jalur politik dan keamanan pada 22 Juni dengan tujuan mencapai kesepakatan final yang lebih luas.
Mereka juga menegaskan tidak memiliki niat bermusuhan satu sama lain serta membahas kerangka keamanan yang mencakup pembubaran kelompok bersenjata non-negara dan pencegahan kemunculan kembali mereka.
Pernyataan bersama tersebut juga menyinggung ketegangan kawasan dengan mengutuk serangan Iran terhadap sejumlah negara di Timur Tengah serta aktivitas yang dinilai mengganggu stabilitas regional.
Pembicaraan yang difasilitasi AS itu berlangsung lebih dari enam jam di hari terakhir negosiasi, menurut sumber Lebanon yang dikutip Anadolu.
Upaya diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi di perbatasan Lebanon–Israel dalam beberapa waktu terakhir, yang telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar meski sebelumnya telah disepakati gencatan senjata pada April.
Situasi juga sempat memanas setelah Israel meningkatkan operasi militernya di wilayah Lebanon, termasuk ancaman serangan ke Beirut, sebelum kemudian terjadi dinamika diplomatik lanjutan yang melibatkan komunikasi tingkat tinggi antara pemimpin negara terkait.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026